Harddisk Tidak Terdeteksi saat Booting, Begini Cara Mengatasinya !

By | March 3, 2019

Sudah barang tentu Anda dibuat kaget saat mengetahui piranti harddisk dan USB yang terpasang pada laptop tidak terdeteksi saat proses booting dijalankan, meskipun telah Anda restart berulang kali.  Terdapat dua hal yang bisa Anda gunakan untuk memahami dan mencocokkan gejala tersebut dengan kondisi yang kemungkinan akan terjadi (pada kasus ini sering terjadi pada pengguna Windows 8 ke atas). Untuk lebih jelasnya silakan simak berikut ini :

  1. Rusak (Bad Sector)

Apabila hal ini yang terjadi, maka sejauh apa Anda akan memperbaiki situasi ini hasilnya akan cenderung menunjukkan pada prosentase yang sangat kecil untuk dapat kembali seperti semula walaupun dalam hitungan beberapa kesempatan saja. Pada kondisi seperti ini, BIOS tetap tidak dapat membaca keberadaan piranti harddisk tersebut, walaupun masih terkoneksi secara fisik. Kesalahan terletak pada beberapa titik antara lain piranti Input Output (I/O) yang rusak, hal ini menyebabkan tidak dapat berfungsinya proses rekam dan baca. Titik lainnya dapat terletak pada disk yang mengalami kerusakan (Bad Sector), sehingga piranti I/O tidak mampu membaca data yang tersimpan dalam kepingan disk tersebut, alhasil keduanya sama-sama menunjukkan indikasi kerusakan piranti harddisk tersebut.

Berbicara masalah data yang hilang, masih ada kemungkinan untuk dapat terselamatkan walaupun beberapa persen dari total keseluruhan data, yaitu dengan menggunakan kecanggihan “Digital Forensic“.

  1. Secure Boot menjalankan fungsinya sebagai filter dan melindungi proses Booting

Apabila kondisi ini yang terjadi, maka masih banyak peluang agar harddisk Anda tersebut dapat digunakan kembali. Hal ini sering terjadi sesaat setelah proses instalasi yang dilakukan mengalami kendala teknis, seperti tidak sesuainya file system yang dibutuhkan untuk instalasi sebuah sistem operasi tertentu, sampai dengan tidak kompatibelnya konfigurasi file instalasi yang dibuat, sehingga menyebabkan gagalnya proses instalasi sistem operasi.

BIOS (Basic Input Output System), memiliki metode perlindungan system melalui beberapa opsi yang dimilikinya. Mulai dari kata sandi (password) yang dapat diaktifkan saat pengguna ingin melakukan pengaturan BIOS untuk sebuah kasus tertentu, hal ini merupakan langkah protektif apabila pengguna yang bersangkutan bukanlah si pemilik piranti laptop yang dimaksud, sampai disini kami rasa Anda telah memahami hal tersebut, sehingga dikhawatirkan terjadi sabotase atau tindakan yang melanggar aturan.

Langkah protektif lainnya adalah mem-filter atau melindungi proses booting dari firmware (perangkat lunak) dan hardware (perangkat keras) yang sebelumnya telah terindikasi dapat menyebabkan Crash pada system, maka beberapa ataupun keseluruhan perangkat I/O akan ter disable dalam proses baca atau deteksi terhadap piranti.

Beberapa analisa diatas memberikan kompromi kepada Anda bagaimana langkah antisipasi selanjutnya, agar kerja-kerja yang tertunda dapat berlanjut dan terselesaikan tepat pada waktunya

Menurut kami, dari dua analisa yang telah tersaji diatas silakan lakukan pembuktian terbalik, maksud disini mulai dari opsi nomor dua terlebih dahulu sebelum Anda mem-vonis harddisk mengalami kerusakan. Berikut ini beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi :

  1. Silakan nyalakan laptop dan kondisikan untuk masuk dalam mode BIOS

Pada kondisi standar laptop untuk masuk ke mode BIOS, Anda dapat mengetuk tombol F2 atau apabila Anda menggunakan PC, maka pada umumnya dengan mengetuk tombol Delete

Seperti permasalahan yang telah diutarakan, berikut ini tampilan pada saat tidak dapat membaca perangkat untuk melakukan proses booting

  1. Selanjutnya silakan sorot tabulasi Security, pilih “Secure Boot menu

  1. Pada halaman Secure Boot menu, silakan ubah nilai default nya menjadi “Disable

  1. Setelah aktif dengan status Disable, maka silakan sorot tabulasi Boot, maka Boot Option akan menampilkan perangkat booting yang dapat Anda gunakan

  1. Untuk mengaktifkan dan dapat mendeteksi perangkat booting melalui sistem jaringan, maka silakan ubah nilai Launch CSM menjadi “Enable

Dari pembuktian diatas, ternyata legalitas status haruslah dipastikan terlebih dahulu, sehingga tidak terburu-buru untuk men”judge” bahwa perangkat harddisk tersebut rusak. Memang sistem proteksi menjadi tidak sekokoh pada awalnya, akan tetapi inilah yang harus Anda lakukan. Silakan lengkapi dengan sistem proteksi tambahan seperti antivirus dan sejenisnya sehingga dapat menutup celah yang telah terbuka pada mode BIOS tersebut.

Setelah perangkat dapat terdeteksi kembali, selanjutnya Anda dapat melakukan kerja-kerja rutin seperti biasanya, akan tetapi menjadi sebuah antisipasi keamanan data apabila Anda melengkapi dengan langkah penyelamatan data (data backup), agar kedepannya apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka data-data penting masih dapat tersedia dan tersimpan dengan baik pada perangkat eksternal lainnya

Demikian artikel yang TUKARPIKIRAN.NET dapat sajikan, semoga dapat bermanfaat untuk Anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun dapat Anda tinggalkan melalui kolom komentar yang tersedia. Terima kasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *